Maniak Game Indo: Cycling
Tampilkan postingan dengan label Cycling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cycling. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 September 2015

Review Cycling: Clipless Pedal Shimano R540 & Sepatu Specialized Sport


Review ini akan saya buka dengan cerita Trip ke Sukabumi hari minggu kemarin (7 Juni 2014). Hari itu saya bikin personal rekor baru untuk bersepeda terjauh yaitu 65 Km (maklum amatir, PR masih rendah).

Masih teringat di pikiran saya tentang bersepeda jauh ke sukabumi tahun lalu yang berjarak sekitar 50 Km-an. Saat itu saya mengambil rute jalan utama. Tapi minggu kemarin, saya ambil rute yang lebih sepi yaitu jalan pelabuhan II.
Tahun lalu, saya masih pemula sekali, dari mulai ga tau tips dan trik, bike fit, serta masih dengan pedal flat biasa. Saat itu mungkin stamina juga masih kurang sehingga saya sangat kecapean hingga besoknya pegal-pegal dan ga enak badan.
Tapi minggu kemarin rasanya berbeda, saya tidak begitu cape padahal jaraknya lebih jauh (walau akhirnya saya menyerah di Km 57an karena mengambil rute baru lagi dan ketemu tanjakan 14%, akhirnya sampai pulang otot betis dan paha naik). Saya juga berhasil bikin 2 rekor King of Mountain (KOM) di Strava. Saya bisa bertahan gowes tanpa berhenti lebih jauh dan lebih lama.

Ada bebeapa faktor yang saya anngap mempengaruhi peningkatan saya, pertama saya lebih banyak membaca dan menonton tips dan teknik yang baik dalam bersepeda. Kedua Saya melakukan Bike Fit lebih akurat. Ketiga saya sudah sedikit lebih banyak latihan. Keempat adalah upgrade sepatu dan pedal ke jenis Clipless.

PEDAL SHIMANO R540






SPECIALIZED SPORT SHOES





CLIPLESS

Clipless pedal menjadi hal utama yang di gunakan kebanyakan pesepeda Road Bike. Clipless pedal memiliki sistem yang membuat kaki pesepeda konstan dan melekat pada pedal sepeda. Katanya, ini bisa meningkatkan power dan kecepatan sepeda. Juga meningkatkan efisiensi tenaga yang dikeluarkan untuk mengayuh sepeda.
Simpelnya, bayangkan anda bersepeda dengan pedal flat biasa. Ketika anda ingin sprint atau ketika anda sedang besusah payah ditanjakan, kadang tapak sepatu bisa bergeser atau meleset dan membuat kekhawatiran, dalam kasus parahnya, kaki tergelincir dan lepas dari pedal. Bisa jadi bahaya.

Hanya saja, untuk menggunakan clipless pedal, tentunya anda juga perlu sepatu cleat khusus. Sepatu ini mempunyai lubang baut dibawahnya untuk memasangkan cleat. Cleat adalah alat bantu agar kedua bagian dari sepatu dan pedal bisa menyatu.
  
cleat dan sepatu 

Dengan Clipless pedal, hal itu tidak lagi perlu dikhawatirkan. Selain itu, clipless pedal juga bisa membuat kayuhan 360 derajat. Ketika kaki kanan mendorong ke depan bawah, kaki kiri bisa menarik ke atas belakang. Power putaran akan menjadi lebih besar.

 clipping-in

Bagi pemula (seperti saya) menggunakan clipless pedal masih membuat was-was dan paranoid. Karena setiap saat takut memikirkan jika tiba-tiba harus berhenti. Padahal sebenarnya melepas cleat itu mudah, yang sulit adalah memasangnya.
 clipping-out


FITTING CYCLING SHOES

Untuk Sepatu, kenapa saya memilih Specialized Sport? Well, alasan utama saya adalah budget tentunya. Untuk sepasang sepatu clipless, kita pelu merogoh kocek mulai sejutaan. Ini bukan angka kecil. Maka dari itu, sengaja saya mencari-cari info sepatu yang harganya dibawah sejutaan. Ketemulah beberapa tipe Shimano dan Specialized Sport ini.

Walaupun sudah ketemu, mencari penjualnya pun lumayan susah. Yah, maklumlah Indonesia. Setelah ketemu penjual, giliran mencari nomor sepatu yang susah. Duh!

Sebelumnya saya sempat fitting ke outlet Rodalink. Sayang ukuran sepatu saya tidak ada disana. Saya biasanya pakai No. 40, yang ada hanya nomor 42, jelas kebesaran. Waktu itu saya disarankan oleh Rodalink kalau mau ambil sepatu Shimano, sebaiknya ambil satu nomor lebih besar. Ah, masa? Saya penasaran dan tanya-tanya di forum sepeda.
Memang banyak yang menyarankan begitu. Karena saya berencana membeli online, ini membuat saya ragu. Kebanyakan toko online tidak punya stok nomor. Jadi kalau-kalau nomor tidak pas, mereka tidak punya gantinya. Waduh.

Ketemulah penjual sepatu Shimano No.41 warna hitam. Ketika hendak ambil, saya berpikir lagi. Sebenarnya saya ingin ambil warna putih. Lalu saya dapat penjual Specialized Sport ini. Pas sekali, Nomor 40 dan warnanya Putih. Tapi tetap saja, saya masih ragu. takut terlalu sempit.
Mulailah saya gugling dan menemukan postingan ini. Dari sana saya mulai beranggapan bahwa pas lebih bagus daripada "gede dikit". karena power kita tergantung disana.
bukannya Semakin ngepas, semakin bagus ketika dorong tarik di putaran pedal? ya kan.

Setelah Mantap lalu saya order sepatu tersebut. Alhasil, saya benar. Ukurannya "Fit" alias sangat pas. tapi tidak kekecilan. Yang jelas harus tidak ada ruang di depan jari dan dibalakang tumit.

Jadi, sepatu sepeda itu Idealnya harus ngepas depan belakang biar tidak ada gerak geser-geser ketika pedaling. Akibatnya bisa lebih parah daripada kesemutan yaitu lecet.
Pokoknya kalau mau ambil sepatu, dan sempat tes fitting ditempat, ya ambil yang nyamannya saja. Catatannya tidak boleh ada ruang di depan dan belakang kaki.
Perlu diingat sepatu sepeda bukan sepatu lari, sepatu sepeda tidak dipakai jalan banyak, hanya dipakai sambil duduk saja. Jadi ga perlu "gede dikit".


REVIEWS

Pedal R540 saya rasa sangat cocok untuk pemula. Pertama karena harganya terjangkau dan tidak terlalu berat. Cliping in-out juga mudah, tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Banyak orang bilang clipless pedal itu sedikit menakutkan karena bisa bikin jatuh bodoh. Jika kita lupa melepas clip pada saat berhenti, maka kaki akan tetap menempel di pedal dan membuat kita miring dan jatuh. Untungnya sejauh ini saya belum mengalaminya.

Tidak banyak yang bisa saya review dari pedal shimano karena memang produk ini adalah produk standar. Cliping-in dan cliping-out biasa saja. Tidak mudah dan tidak sulit.
Perbedaan dengan produk premium atau yang lebih mahal dari ini biasanya adalah dari segi beratnya. Mereka lebih ringan bobotnya. Tapi kalau untuk pemula, berat segini masih tidak masalah (sekitar 660gram sepasang).

Untuk Sepatu Specialized Sport. Material tapak sepatu sangat keras yang artinya bagus. Sehingga power kayuhan lebih bertumpu ke pedal karena sepatu tidak fleksibel/melengkung-lengkung. Semakin kokoh tapak sepatu itu semakin bagus.
Tali Strap melekat kuat. Bagian dalam lunak dan lembut. Yang paling penting adalah banyak ventilasi udaranya.

Karena Saya ambil nomor yang Fit, efeknya awalnya mungkin adalah kesemutan setelah sejam lebih bersepeda. Solusinya adalah dengan mengendurkan sedikit tali strap nya.

Kekurangannya ada pada karet bawah tapak sepatu bagian belakang. Desainnya terlalu tipis sehingga bisa mudah lepas (sekarang sih belum, mungkin suatu saat bisa). Dan karena itu juga, berjalan dengan sepatu ini harus lebih sedikit hati-hati, jika tidak bisa terkilir.

Categories: ,

Sabtu, 04 April 2015

Morning Ride - Road Cycling with SJ4000

Akhirnya video ke-2 untuk channel youtube saya selesai dirilis seminggu yang lalu.
Melalui 2 hari proses editing, video berdurasi 3 menitan tersebut berhasil saya upload. Belum lihat? silahkan tonton dulu:
Video ini di rekam 100% menggunakan SJCAM SJ4000 WIFI seperti yang saya review kemarin.
Di rekam di daerah jalan raya Cikidang-Pelabuhanratu KM17 pada hari minggu 22 maret 2015. Saya sangat beruntung karena cuaca saat itu cerah sekali.
Sebelumnya memang sudah saya rencanakan pada minggu pagi tersebut untuk bersepeda kesana. Tapi karena pengalaman saya bersepeda ke lokasi akan memakan waktu cukup lama dan energi cukup banyak, sementara waktu yang bagus untuk mengambil gambar juga terbatas, maka saya membawa sepeda dengan mengendarai mobil pribadi terlebih dahulu ke lokasi pengambilan gambar. Saya membawa kakak ipar untuk supir cadangan dan adik saya untuk beberapa sudut pengambilan gambar dari dalam mobil.

Sebenarnya jalanan tidak se-sepi seperti yang terlihat di video. Saya hanya memilih momen-momen yang pas ketika jalanan sepi untuk mengambil gambar tersebut.

Saya hanya mempunyai satu baterai pada kamera saya dan menurut perhitungan saya, saya punya waktu kurang lebih 90 menit untuk merekam semua sudat yang saya butuhkan. Cukup tricky, dan sebenarnya saya masih punya sisa baterai saat itu. Saya masih bisa merekam beberapa sudut lainnya, tapi sayang saya tidak sempat.

Sesampainya dirumah, saya lihat kembali hasil rekaman dan saya merasa tidak begitu puas karena alasan tadi. Masih ada beberapa sudut kamera yang tidak sempat terekam. Tapi mau tidak mau saya harus edit hasil yang ada.

Proses editing tidak langsung saya kerjakan hari itu, bahkan keesokan harinya masih belum saya mulai. Saya juga punya pekerjaan lain, jadi perlu mencari waktu luang yang pas, karena editing video tidak se-simple editing foto. Perlu waktu lumayan lama dan konsentrasi juga.
Saya mengedit video ini 100% menggunakan Adobe Premiere Pro CC. Skill editing saya masih pas-pas-an, jadi harap maklum dengan hasil video tersebut.

Terimakasih sudah menonton dan membaca.

Categories: , ,

Minggu, 28 September 2014

My First Touring with Road Bike

Persiapan sudah saya mulai sejak sehari sebelumnya. Sore sehari sebelumnya saya latihan gowes, lalu malamnya tidur lebih awal. Walau tidur lebih awal yaitu sekitar setengah delapan malam, saya akhirnya terbangun juga jam sebelas malamnya, dan ajaibnya, sampai subuh saya tidak bisa tidur lagi. Oh, mungkin bawaan kebiasaan begadang.
Semalam itu saya gunakan untuk mempersiapkan sepeda, mengecek segala perangkatnya supaya besok ga ada kesalahan teknis.
Awalnya saya sempat ragu mau melakukan perjalanan yang lumayan jauh ini, karena saya pikir saya kurang tidur dan itu bisa membuat saya tiba-tiba pingsan tengah jalan. Tapi saya beranikan juga mengambil resiko karena saya rasa saya cukup fit untuk melakukannya.
Saya harus nekat!
Begitulah yang ada dipikiran saya. Saya belum pernah bersepeda jauh lebih dari 50km. Paling jauh selama ini hanya 13km pergi-pulang. Well, saya masih sedikit fobia dengan tanjakan juga. Tapi ya, kapan lagi? Kalau tidak dicoba, kapan akan bisa?

Akhirnya Rute pun saya tetapkan. Dari rumah, di parungkuda, saya berencana pergi lewat jalan utama menuju lapangan merdeka sukabumi, lalu singgah ke sekolah lama saya SMKN1 sukabumi via jalan Secapa Polri. Yosh!


 Dan TERNYATA! Perjalanan saya ibarat mendaki sebuah gunung. Selama ini tidak pernah saya sadari bahwa dari rumah ke sukabumi jalannya menanjak begitu signifkan. Karena, yaah, selama ini saya cuma mengandari motor atau naik angkutan umum. Tapi setelah saya gowes setengah perjalanan, saya sadar, bahwa rute yang sedang saya lewati adalah tanjakan tiada akhir. Saya frustasi.
Kecepatan rata-rata saya pun menurun drastis, hanya sekitar 18km/h.
Sebelumnya sudah saya perhitungkan bahwa jarak tempuh saya hanya sekitar 25km. Jika saya berangkat dari rumah jam setengah enam pagi, dan dengan kecepatan rata-rata 30km/h, maka kurang dari satu jam pasti saya sudah sampai karena diperjalanan pasti ada jalanan menurun untuk melakukan sprint. Ternyata saya salah.
Yang jelas saya sampai lebih dari satu jam, karena saya juga mampir sebentar di cisaat untuk mengambil beberapa foto dokumentasi. Karena memang olahraga kali ini tidak terlalu saya fokuskan benar-benar "olahraga" tapi lebih kepada touring santai. Jadi ditengah perjalan saya bisa singgah di beberapa tempat untuk mengambil gambar photo sphere juga. haha.
Dan akhirnya, kebahagian itu datang juga setelah saya bisa mencapai tujuan. Ini pertama kalinya saya ber-minggu pagi di lapangan merdeka sukabumi. Dan wow, ternyata ramai sekali. Semua warga berkumpul untuk berolahrga, atau ada juga yang untuk nongkrong dan mejeng doang. (haha, saya bisa baca gelagat seseorang). Saya tidak bisa mengambil foto secara bebas karena terlalu banyak orang-orang yang bergerak, maka saya rencanakan kembali lagi kesini di jalan pulang nanti.
Saya duduk agak lama disana, mengistirahatkan otot karena saya harus bersiap mendaki lagi. Tujuan selanjutnya adalah mantan alias bekas sekolah saya dulu: SMKN 1 Sukabumi. Sudah lama saya ingin kesana, sekedar melihat perubahan dan bernostalgia. Sudah 3 tahun lebih saya belum pernah kembali kesini. FYI, sekolah saya ini ibaratnya ada di puncak sukabumi dan tata letaknya begitu rapi dan asri. Seluas mata memandang, hampir tidak ada sudut yang tidak ada "hijau"nya. Itulah yang membuat saya dan mungkin para pelajar turun temurun betah sekolah disini.
Ketika saya masuk dan menitipkan sepeda. Saya tak bisa berbuat banyak karena masih tidak percaya saya bisa sampai kesana hanya menggunakan sepeda. Saya pun lebih memilih menikmati momen, menatap lama dan memperhatikan setiap sudut sekolah lama saya itu daripada mengambil lebih banyak foto. Well. benar-benar menyenangkan.

Seperti rencana saya, saya tidak mungkin berlama-lama di Sukabumi karena tiap menit saya disini terik matahari makin memanas dan saya masih jauh dari rumah.
Saya pun pergi meninggalkan Sukabumi tapi sebelumnya menyempatkan kembali ke Lapangan Merdeka dan Mesjid Agung disana.
Dengan berbekal gugel maps, saya ingin mencoba rute baru untuk pulang yaitu dengan melalui Jalur Lingkar Selatan, Sukabumi. Seingat saya jalur ini masih sepi dan mungkin bagus untuk bersepeda, tapi anginnya lumayan kencang.

Setelah sampai di Jalur tersebut, saya frustasi lagi dengan kenyataan bahwa arah pulang dari sini adalah tanjakan juga?! "Lho, saya kan ke sukabumi tadi nanjak, kok pulang nanjak lagi, ga masuk akal!"
Tapi begitulah kenyataannya. Dari kota ke Jalur memang menurun. Tapi setelahnya, dari Jalur ke pertigaan di dekat Cisaat, merupakan tanjakan, karena posisi jalur ini memang terlalu bawah.
Yaah. Terpaksa saya lalui karena saya sudah terkurung disini, balik lagi nanjak, dilewatin juga nanjak, fuh.
Lagi lagi, ini adalah rute yang berat, saya hanya bertahan di 20an km/h sesekali ada turunan tapi segera setelah itu adalah tanjakan lagi. Niatnya saya mau melakukan sprint disini dan menghasilkan max speed baru, tapi saya salah rute, seharusnya pas pergi baru ambil rute ini, bukan pas pulang. Ya sudahlah.
 
 Lepas Jalur lingkar Selatan adalah rute menurun kembali. Tapi saya masih tidak senang dengan itu. Jalur yang saya lewati banyak rusaknya, dan ditengah terik matahari jam sebelas siang saya masih terhambat oleh padatnya lalu lintas juga. Sepeda Road bike ini tidak cocok dengan jalanan yang tidak mulus, jangankan berlubang, jalanan retak sedikit saja getarannya sangat terasa. oh sempurna.
Well, my friend, kenapa saya menulis ini, ya untuk virtual dairy saja sih sebenarnya. Dan untuk mengingatkan saya sendiri juga bahwa saya pernah melakukan ini semua. Saya ingin membuat catatan ini untuk mengingatkan bahwa akhirnya saya bisa dan pengalaman bersepeda saya pun bertambah. Touring singkat ini, yang walau saya jalani sendirian karena saya belum punya teman seperjuangan dalam hobi ini, saya ambil hikmahnya saja, toh saya juga ga terlalu ngotot selama touring, saya bawa dengan santai dan lebih kepada menikmati segala momen.

Sesampainya dirumah, saya lanjutkan tidur yang kurang semalam tadi. Bangunnya saya tulis blog ini. Lalu tidur lagi sampai keseokan siangnya karena badan saya berasa hancur semua. Dasar pemula, Haha.

Terimakasih sudah membaca. Maaf kalo ada salah salah typo.






Categories: ,

Sabtu, 28 Juni 2014

Last Riding Before Ramadhan. That Was Emotional!


That was emotional. Can't enjoy it.
 Baru beberapa menit gowes atau sekitar beberapa ratus meter saya berangkat. Kejadian memalukan terjadi pada saya. Saya nyaris terpental seperti gambar ilustrasi diatas karena mengerem ban depan secara maksimal. Apa sebabnya? Jadi ceritanya begini....

That was a Bad Idea.
Kejadian tadi sore ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi dan bayangan-bayangan saya.
Awalnya saya mengira, "jika sekarang malam terakhir sebelum bulan puasa, pasti banyak yang lagi bersepeda sore nih."
Tapi ternyata, ga ketemu satupun. Sialnya lagi jalanan ramai dan macet dibeberapa tempat.

Seperti saya bilang diatas, bersepeda tadi itu begitu emosional.Kenapa? Karena jalanan yang ramai, saya lupa pakai masker, dan macet parah di beberapa titik.
Lalu kejadian memalukan sempat pula saya alami.
Ketika beberapa ratus meter dari titik berangkat, ada sedikit kepadatan jalan. Oh iya, FYI, saya ini tadi bersepeda di jalan raya, jalan utama Sukabumi-Bogor. Lalu saya salah sangka mengira jalanan bakal sepi dan banyak yang bersepeda untuk terakhir sebelum ramadhan. ternyata salah besar.
Orang-orang sedang keluar memadati jalan, mungkin untuk beli makanan untuk persiapan sahur dan keperluan lainnya.

Kembali ke kejadian memalukan tadi. Saat itu saya kurang fokus dan melepas sebelah tangan untuk mengatur stopwatch di jam tangan saya. Tanpa saya duga mobil sport hitam di depan saya berhenti mendadak (atau mungkin memang berhenti secara normal, karena saya kurang fokus juga).
Otomatis saya panik dan refleks mengerem maksimal. Dan.. tanpa sadar saya mengerem ban depan secara maksimal, ban depan tersebut berhenti total ditengah laju saya yang tidak terlalu cepat tapi sanggup untuk membuat bagian belakang sepeda saya terpental. UNTUNGNYA, saya masih bisa pegang kendali dengan kuat sehingga saya tidak sempat terjatuh, hanya tertatih-tatih. Saya pun menepikan sepeda saya dan pura-pura cek jam tangan sambil geleng-geleng mengarah ke mobil tadi (alih-alih supaya tidak malu dilihatin para pengendara yang melihat kejadian saya tadi). Sambil pura-pura, saya juga sambil menahan rasa sakit di selangkangan karena frame sepeda sempat mental kesana. Ugh.

Cukup beberapa saat saja, saya punya target waktu dan saya harus sudah arah balik dan sampai rumah sebelum jam 6 pikir saya. Maka saya pun melanjutkan menggowes sepeda.
Sepanjang jalan biasa saja, hanya yang bikin emosional lainnya adalah dada sesak karena banyak menghirup gas karbon dijalan. Saya menyesal tidak memakai masker sebelumnya.
Saya pun sampai di beberapa titik kemacetan dan tidak kalah emosional lagi karena harus memperlambat laju.

Sebenanrnya bukan itu yang paling menjengkelkan, tapi kejadian ini: Bayangkan dimana saya seharusnya melakukan sebuah sprint di jalan menurun untuk mendapat tenaga karena selanjutnya adalah jalan tanjakan, tapi ditengah sprint malah ada kemacetan. Lalu tadi sempat pula, ketika sedang berusaha di tanjakan yang lumayan panjang, saya diberhentikan karena ada mobil yang mau masuk persimpangan, Argh! Anda pasti tahu bagaimana perasaan itu. "Nikmat" minta ampun.

Tapi saya senang. Sekarang saya sadar saya mulai terlatih. Saya melewati beberapa tanjakan lebih cepat dari sebelum-sebelumnya. Cuma satu kekurangan yang saya miliki, saya tak memiliki banyak waktu luang untuk bisa bersepeda lebih jauh dan lebih lama karena selalu berbenturan jam kerja.

Eniwei, Walau sempat malas karena badan sedikit pegal, Alhamdulillah, saya tidak melewatkan tarawih pertama malam ini.

Selamat Puasa.







Categories: ,

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html

Copyright © Maniak Game Indo | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | BTheme.net      Up ↑